Halloween Costume ideas 2015

gustianakjuran

Juni 2017

makam pangeran abu bakar
Makam Pangeran Abu Bakar

Kabupaten Tabalong
adalah kabupaten yang mayoritas penduduknya dihuni oleh suku Banjar dan Dayak. Kabupaten Tabalong juga merupakan kabupaten dengan populasi suku Dayak yang cukup banyak dengan berbagai macam sub-suku, dan yang paling banyak ada Dayak Deah. Jika kita lihat jauh ke belakang dan melihat berbagai macam teori yang menyatakan bahwa orang-orang Dayak lah yang merupakaan penduduk asli Pulau Kalimantan. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya pendatang yang datang ke Pulau Kalimantan seperti orang-orang Malayu, Jawa, Bugis, dan lainnya sehingga terjadi akulturasi dan asimilasi budaya yang akhirnya menciptakan adentitas baru yaitu Suku Banjar (khusus Kalimantan Selatan). Sampai saat ini suku Banjar menjadi suku mayoritas di kalimantan Selatan disusul dengan Suku Dayak.

Berikut beberapa Suku Dayak yang ada di Kabupaten Tabalong:
1.      Dayak Deah
2.      Dayak Maanyan
3.      Dayak Lawangan
Dari beberapa suku dayak tersebut Dayak Deah yang mempunyai populasi terbanyak. Oleh karena itu banyak tempat-tempat yang asal-usulnya dinamai oleh atau berdasarkan budaya Dayak.

Desa Marindi.
Desa Marindi adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong. Masyarakat Desa Marindi Mayoritas adalah Suku Banjar Pahuluan dan beragama Islam. Mata pencaharian masyarakat mayoritas adalah berasal dari hasil bertani/ladang dan berkebun karet. Desa Marindi juga mempunyai potensi objek wisata alam yang sangat indah, yaitu Riam Mambanin. Riam Mambanin adalah objek wisata alam yang menawarkan keindahan pemandangan alam, air terjuan, dan jeram-jeram kecil yang ada di sungainya.

Karakteristik Desa Marindi sama dengan desa-desa lainnya, yaitu pemukiman penduduknya berjejer mengikuti jalan atau sungai (tidak berkumun). Sebelum kedatangan orang-orang dari Pahiliran (Kalua) Desa Marindi merupakan pemukiman atau tempat tinggal dari Suku Dayak Deah. Desa Marindi merupakan desa tua yang sarat akan sejarah, hal ini terbukti dengan adanya beberapa peninggalan sejarah seperti Masjid Al-Hidayah dan Makam seorang Ulama penyebar agama Islam di Desa tersebut, yaitu makam Pangeran Abu Bakar.

Asal-usul nama Marindi dan Lusia
Sebelum kedatangan rombongan Pagustian dari Kalua, daearah yang dinamakan Desa Marindi ini dihuli oleh masyarakat Dayak Deah yang di pimpin oleh kepala suku yang bernama Rende. Rombongan Pagustian yang datang ke Marindi ini dipimpin oleh Pangeran Abu Bakar (dalam rentang waktu 1885-1890), kedatangan mereka ke daerah ini diakibatkan daerah Kalua berhasil dikuasai oleh Belanda (pada waktu itu sedang berlangsung Perang Banjar). Mereka disambut hangat oleh penduduk setempat dan dibiarkan tinggal.

Kedatangan orang-orang Pahiliran ini membawa perubahan pada penduduk setempat, terutama pada bidang mata pencaharian dan kepercayaan. Masyarakat yang sebelumnya hidup bergantung dari hasil hutan dan ladang berpindah diperkenalkan cara baru, yaitu dengan membuka lahan untuk persawahan sehingga tidak perlu lagi berpindah-pindah untuk menanam padi (budaya ladang berpindah masih tetap dilakukan masyarakat hingga saat ini). Dari aspek kepercayaan, masyarakat yang dulunya menganut kepercayaan leluhur yaitu Kaharingan sebagian besar memeluk agama Islam dan sebagian lain tetap dengan kepercayaan nenek moyang mereka. Namun, perbedaan keyakinan ini tidak membuat masyarakat terpecah, mereka tetap hidup rukun berdampingan.

Di Kabupaten Tabalong banyak kita jumpai nama-nama desa atau tempat yang di awali dengan kata “Ma”, seperti Marindi, Mantikus, Mangkupum, Masukau, Marimjim, Mabuun, Mahe, Maburai, dan banyak lainnya. Dari hasil wawancara saya dengan beberapa tokoh Dayak Deah,mereka mengatakan bahwa daerah-daerah yang berawalan dengan kata “Ma” dulunya merupakan pemukiman-pemukiman nenek moyang mereka. Akibat derasnya arus pendatang dan Islamisasi mengakibatkan orang Dayak sekarang hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Dayak Deah sebagian besar menempati daerah Kecamatan Upau, Desa Mangkupum, Nawin, dan Seradang. Dayak Lawangan mendiami daerah Binjai, Salikung di Muara Uya dan Dayak Maanyan mendiami daerah Warukin dan Daerah Barito Timur, sedangkan Dayak Iban dinyatakan sudah hampir tidak ada lagi.

Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa daerah Marindi sebelum kedatangan para pendatang daerah tersebut di pimpin oleh kepala suku yang bernama Rende. Dalam bahasa Dayak Deah kata “ma” artinya “pak” atau “Bapak”, jadi Ma Rende artinya Bapak Rende atau suatu daerah yang dipimpin oleh Bapak rende. Seiring berjalannya waktu penyebutan Ma Rende berubah menjadi penyebutan tempat yaitu Marindi.

Sedangkan Lowu sia atau Lusia sekarang ini mempunyai arti rumah yang terbakar (dalam bahasa Dayak Deah). Menurut beberapa tokoh masyarakat disebut Lowu Sia atau rumah yang terbakar dikarenakan pada zaman dulu pernah terjadi sebuah kebakaran hebat di daerah tersebut (hasil wawancara dengan beberapa tokoh adat Dayak Deah).

Banjarmasinku bungas, Banjarmasinku sayang.


Kota Banjarmasin sering disebut dengan julukan kota seribu sungai. Kata seribu sungai ini di berikan bukan karna jumlah sungainya ada seribu, tetapi dikarenakan banyaknya sungai yang mengaliri daerah ini baik itu sungai yang berukuran besar maupun yang berukuran kecil. Menururut data dari Dinas Kimprasko ( Dinas Pemukiman dan Prasarana Kota) Banjarmasin yang dilangsir oleh Wikipedia menunjukkan pada 1997 di Ibu Kota Kalimantan Selatan itu terdapat 117 sungai, kemudian pada 2002 berkurang menjadi 70 sungai, lalu pada 2004 sampai sekarang hanya tinggal 60 sungai.
Sungai sudah menjadi bagian hidup dari masyarakat Banjarmasin. Hal ini sudah berlangsung sejak jaman Kesultanan Banjar (1525-1860), dimana sungai menjadi urat nadi kehidupan. Adapun fungsi sungai yang utama pada waktu itu adalah sebagai jalur transportasi yang menghubungkan  daerah pedalaman dengan kota Banjarmasin, sebagai tempat dan jalur perdagangan baik lokal maupun internasional, dan sungai sebagai tempat untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan sebagainya. Begitu penting arti sungai bagi masyarakat Banjarmasin. Namun, seiring berjalannya waktu kondisi sungai-sungai yang ada di Banjarmasin semakin hari semakin memperihatinkan, ini dikarenakan pencemaran akibat dari limbah rumah tangga  dan juga limbah industri.
Begitu banyak kegiatan masyarakat yang dilakukan di sungai seperti sebagai jalur transportasi, perdagangan, dan juga melakukan kegiatan sehari-hari. Namun, dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan tidak diiringi dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan sungai sebagai urat nadi kehidupan mereka. Akibatnya sungai di Banjarmasin tidak lagi bersih, tercemar limbah rumah tangga, menyempit, dangkal, dan bahkan ada yang mati.
potret keadaan sungai banjarmasim
Masyarakat menggunakan sungai untuk kegiatan sehari-hari

Masyarakat yang tinggal dibantaran sungai mempunyai kebiasaan membuang sampah langsung ke sungai baik itu sampah organik maupun non organik. Kebiasaan inilah yang membuat sungai di Banjarmasin semakin hari semakin kotor banyak sampah berserakan dimana-mana. Ironisnya walaupun sungai dijadikan tempat pembuangan sampah masal oleh masyarakat, tetapi mereka tetap menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mencuci pakaian, dan mandi. Air sungai yang sudah tercemar tentu sangat tidak baik untuk digunakan apalagi kalau itu untuk konsumsi.
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai disebabkan adanya pergeseran budaya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Banjar. Pergeseran budaya yang dimaksud adalah masyarakat Banjar yang dikenal memiliki kebudayaan sungai bergeser menjadi budaya darat. Perkembangan kota yang semakin pesat dan pertumbuhan jalan-jalan darat yang semakain banyak mengakibatkan masyarakat secara perlahan mengabaikan pentingnya arti kelestarian sungai bagi kehidupan mereka.
potret kehidupan sungai di banjarmasim
sungai sebagai jalur transportasi

potret keadaan sungai banjarmasim
berbagai kegiatan dilakukan masyarakat di sungai Martapura, Banjarmasin.

Apabila dilihat secara keseluruhan permasalahan kebersihan sungai ini bukan hanya tanggung jawab dari masyarakat saja, tetapi pemerintah kota juga harus ikut bertanggung jawab dalam melestarikan sungai. Pemerintah harus memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya kebersihan sungai bagi kelangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka nanti, selain itu pemerintah juga harus mengatur tata ruang kota khususnya disekitar bantaran sungai. Banyaknya bangunan dan rumah-rumah warga yang berada dibantaran sungai, mereka membangun rumah menjorok ke sungai atau memakan bibir sungai sekitar 5 sampai 10 meter. Hal ini tentu akan mempersempit sungai dan menghambat aliran air yang mengalir. Terkait hal ini pemerintah harus membuat aturan yang tegas mengenai izin membangun bangunan di pinggir sungai agar tidak terjadi penyempitan sungai.
Diharapkan kesadaran dari masyarakat dan keseriusan dari pemerintah untuk menjaga dan melestarikan sungai, bekerjasama dalam mewujudkan sungai yang bersih dan tertata rapi agar semua pihak menikmatinya baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi kesehatan. Air adalah sumber kehidupan, menjaga sungai sama artinya dengan menjaga kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita dimasa yang akan datang.


Indahnya masa kecil tanpa gadget.

Gadget atau ponsel pintar sekarang ini bisa dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi setiap orang. Terlebih bagi anak-anak remaja, ponsel menjadi barang yang wajib mereka miliki. Dengan gadget atau ponsel pintar orang-orang yang memilikinya dapat melakukan berbagai macam aktivitas seperti berfoto selfie, bermedia sosial, membaca beritan dan melakukan aktivitas lainnya. Aktivitas tersebut bisa dilakukan dimana saja dan kapanpun. Namun, dari sekian banyak aktivitas yang dapat dilakukan menggunakan ponsel pintar ada hal penting yang terlewatkan yaitu kehidupan sosial yang nyata.
Bukan media sosial, aktivitas atau interaksi yang dilakukan di media sosial itu hanya semu, bukan interaksi yang sebenarnya. Dewasa ini ponsel pintar telah membuat orang menjadi semakin individualis. Misalnya ketika sedang berkumpul dengan teman, mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing, begitu halnya dengan anak-anak jaman sekarang mereka lebih banyak bermain dengan ponsel dari pada bermain dengan teman-temannya. Satu hal yang sangat disayangkan, berbeda dengan anak-anak generasi 90-an dimana belum ada ponsel pintar. Tempat bermain yaitu halaman rumah, tempat-tempat lapang dan tentu tempat favorit yaitu sungai. Ada yang kurang jika belum bermain di sungai. Bahkan sampai lupa waktu hingga “mak” atau ibu menjemput sambil membawa sapu lidi.. hihihi

Indahnya masa kecil tanpa gedget, bermain dengan teman sebaya, bermain dengan alam, bermain berbagai macam permainan tradisional dan yang paling menyenangkan bermain di sungai.hehe
Salah satu aktivitas bermain yang paling menyenangkan di tempat saya tinggal yaitu yang kami sebut dengan “Balantingan” atau bisa juga disebut dengan susur sungai. Saya tinggal di sebuah desa kecil di Kabupaten Tabalong, Kalsel.

BALANTINGAN

[BALANTINGAN], istilah yang kami gunakan untuk kegiatan ini. Mungkin di tempat lain disebut dengan nama yang berbeda. Sensasi “Balantingan” mengkin tidak jauh berbeda dengan Arum Jerang..hihihi yang pasti sangat menyenangkan, biasanya kami lakukan di hilir Sungai Kinarum. Ini menjadi kegiatan favorit saya dan teman-teman ketika berumur 8-15 tahun/tahun 2000-an.
Balantingan sering kami lakukan ketika air sungai mulai naik setelah turun hujan (banyu dalam). Lanting yang kami gunakan terbuat dari batang pohon pisang yang “digampir” sehingga bisa dibuati oleh beberapa orang.
Sekarang kegiatan ini sangat jarang dilakukan oleh anak-anak  karena dianggap kegiatan yang membahayakan karena dilakukan di sungai yang airnya sangat deras dan dalam.
Ya, kegiatan ini sangat membahayakan bagi orang yang tidak bisa berenang.

Namun percayalah, Saya dulu pandai berenang…hahahaha

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh mammuth. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget